MODEL HUBUNGAN INTERPERSONAL MASYARAKAT MUSLIM DAN NON MUSLIM GUNA MENJAGA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA PADA KECAMATAN BESITANG KABUPATEN LANGKAT
DOI:
https://doi.org/10.55123/sabana.v1i1.242Kata Kunci:
Communication Pattern, Religious harmony, Besitang sub-districtAbstrak
This study seeks to describe the model of interpersonal relationships between Muslim and nonMuslim communities in order to maintain religious harmony. The main purpose of this research is to educate the readers that the residents of Besitang District live side by side in harmony despite religious differences. The method used in this research is qualitative research which produces descriptive data in the form of written or spoken words. Data collection techniques using interviews (in-depth interviews). Then the data analysis technique used in this research is data reduction, data presentation and conclusion verification. From the results of this study, it has been found that the model of interpersonal relationships among Muslim and non-Muslim communities in Besitang District is mutual cooperation in the social field, always conducts deliberation between religious communities and has a sense of mutual care for others, has emotional bonds that respect each other. in religious differences. Therefore, it can be concluded that there are values of inter-religious harmony in Besitang District. The absence of herinzontal conflicts between religious adherents.
Unduhan
Referensi
Badri, M. (2022). Komunikasi Inovasi dalam Adaptasi Kebiasaan Baru: Studi Deskriptif pada Pelaku Usaha di Provinsi Riau. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 20(01), 1–13. https://doi.org/10.46937/20202238001
Halim, A., & Adhitama, T. S. (2021). Jurnal Ilmu Komunikasi KOMUNIKASI PERUBAHAN SOSIAL DAN JIHAD LITERASI PESANTREN ( Studi di Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta ) Pendahuluan Penyebaran ajaran agama Islam di negeri ini tidak lepas dari pesantren , sejarah kehadiran pesantren seiring dengan penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para waliyullah . Kemudian lebih lanjut diketahui dari banyak literatur bahwa dalam prosesnya pesantren menjadi pusat pendidikan Addiinul -Islam yang merupakan sambungan sistem zawiyah di India dan Timur Tengah . Para wali kemudian disebut sebagai pelaku yang telah berjasa dalam merintis berdirinya model lembaga pendidikan Islam ini di Indonesia yang jamak kita kenal sebagai pesantren hingga saat ini . Pesantren bagi Tilaar , kemudian disebut sebagai sebuah bentuk pendidikan yang indigenous . 1 Pada perkembangannya tipologi pondok pesantren sangat beragam . Muhammad Fahmi mengatakan , keragaman karakter dunia pesantren dipengaruhi oleh peradaban rasional dan modern , yang membuat pesantren menjadi lebih terbuka . Semula pesantren berpusat pada figur Kiai , namun ketergantungan pada figur pusat semacam itu mulai berkurang . Walaupun ada perubahan , ada memprioritaskan aspek moralitas dalam proses pendidikan . Apapun inovasi yang dikembangkan pesantren , menduduki puncak perhatian utama . 2 Sedangkan bagi Muhammad Rouf , tipologi pesantren lebih mudah disederhanakan menjadi tiga kategori ; Salaf / Tradisional , Khalaf / Modern , dan Gabungan ( Konvergensi ) antara Salaf- Khalaf . Pesantren Khalaf yang lebih condong memodernisasi sistem pendidikannya melahirkan satu lembaga pendidikan kedua , yaitu Madrasah . Pada akhirnya , pesantren dalam sistem pendidikan nasional berstatus sebagai lembaga non-formal . Sedangkan madrasah merupakan lembaga pendidikan formal yang setara dengan SD , SMP , SMA / SMK . Lulusan Madrasah bisa melanjutkan ke perguruan tinggi umum di bawah naungan kementerian pendidikan nasional . 3 Fungsi dan peran pesantren juga dapat diukur dari bahan ajar yang disuguhkan kepada para santri . Karena bahan ajar merupakan bagian kurikulum yang dapat membentuk mindset dan kiprah santri di tengah masyarakat kelak . Menurut Sudarnoto , setidaknya setiap pesantren membekali para Santri dengan enam pengetahuan , yaitu : ilmu syariah , ilmu empiris , ilmu yang membuat kemampuan berpikir kritis dan berwawasan luas , ilmu pembinaan budi pekerti , latihan keterampilan kemasyarakatan , Perubahan dari pesantren tradisional ke modern ( salaf…. 11(2).
Haryati. (2017). Pantun Sebagai Media Komunikasi dalam Prosesi Perkawinan Adat Melayu di Kabupaten Karimun. Menara Ilmu, XI(76), 155–165.
Lani, O. P., Mastanora, R., Handayani, B., Maimori, R., Batusangkar, I., & Riau, U. I. (2021). Komunikasi Verbal Dan Nonverbal Pada Film Kartun Shaun the Sheep. 10(2).
Marzuk, D. I. (2020). Komunikasi Budaya Yang Terinternalisasi Dalam Prosesi Perkawinan Melayu Deli (Nilai Dari Pemaknaan Pantun dan Tarian Terinternalisasi Dalam Budaya Masyarakat Melayu Deli). Qaulan : Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 1(1), 52–71. https://jurnal.stain-madina.ac.id/index.php/qau/article/view/119/140
Permatasari, A. N., Inten, D. N., Wiliani, W., & Widiyanto, K. N. (2020). Keintiman Komunikasi Keluarga saat Social Distancing Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 346. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.577
Zaini, A. (2015). Dakwah Melalui Televisi. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, 3(1), 1–20. https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/komunikasi/article/view/1642/1478
Afriza, L. (2020). PENDAMPINGAN DESA / KAMPUNG WISATA SEBAGAI DESTINASI.
Asy’ari, R. (2018). KONSEP PENGEMBANGAN DESA LIANG NDARA SEBAGAI DESA WISATA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu. 2012, 22–46.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2022 wahyuziaulhaq ziaulhaq

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.




















