Hubungan Sosial Budaya, Kelengkapan Imunisasi dan Faktor Social Ekonomi dengan Kejadian Stunting pada Balita 0-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana

Authors

  • Marliance Lewo Wolla Universitas Nusa Cendana
  • Pius Weramen Universitas Nusa Cendana
  • Sigit Purnawan Universitas Nusa Cendana

DOI:

https://doi.org/10.55123/sehatmas.v5i3.8554

Keywords:

Socio-Cultural, Basic Immunization, Socio-Economic Status, Toddlers

Abstract

Stunting is a public health problem that impacts physical growth, cognitive development, and the quality of future human resources. Various factors are suspected to be associated with stunting, including socio-cultural factors, completeness of basic immunizations, and family socio-economic status. This study aims to analyze the relationship between socio-cultural factors, completeness of basic immunizations, and socio-economic status with stunting in toddlers aged 0–59 months in the Sikumana Community Health Center (Puskesmas) work area. This study used an observational analytical design with a case-control approach. The study sample consisted of 128 respondents, consisting of case and control groups. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Chi-Square test at a 95% confidence level (α=0.05). The results showed that most mothers had no dietary restrictions during pregnancy (77.3%), most toddlers received complete basic immunizations, and most families had sufficient income. Bivariate analysis showed no association between cultural dietary restrictions and stunting (p=0.833; OR=1.093). There was a significant association between completeness of basic immunizations and stunting (p<0.001; OR=0.121), with toddlers with incomplete immunizations having a greater risk of stunting. Furthermore, there was no significant association between family income and stunting (p=0.480; OR=0.779). This study concluded that completeness of basic immunizations was associated with stunting, while cultural dietary restrictions and family income were not associated with stunting in toddlers aged 0–59 months in the Sikumana Community Health Center (Puskesmas) work area. Increasing coverage of complete basic immunizations is necessary to continue to prevent stunting.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Akombi,B.J.etal.(2017)‘Stunting and severes tunting among children under-5years in Nigeria: A multilevelanalysis’, BMC Pediatrics, 17(1), pp. 1– 16. doi: 10.1186/s12887-016-0770-z.

Alfarisi,R.etal. (2019)‘Status Gizi Ibu Hamil Dapat Menyebabkan Kejadian Stunting pada Balita’, Jurnal Kebidanan, 5(3), pp. 271–278.

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (2016) ‘Data Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Tahun 2016’, Pusat

BAPPENAS and UNICEF (2017) ‘Laporan Baseline SDG tentang Anak Anak diIndonesia’, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan United Nations Children’sFund, pp. 1–105. Available

Bella,F.D.,Fajar,N.A.and Misnaniarti (2020)‘Hubungan antara PolaAsuh Keluarga dengan Kejadian Balita Stunting pada Keluarga Miskin di Palembang’, Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 5(1), pp. 15–22.Available at:https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jekk/article/downloadd/5359/3746.

Candra, A. and Puruhita, N. (2011) ‘RiskFactorsofStuntingAmong 1-2 Years Old Children in Semarang City’, Media Medika Indonesiana, 45(3), pp. 206– Use the "Insert Citation" buttontoaddcitationstothisdocument.

Dahlan, M. S. (2014). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskriptif, Bivariat, dan Multivariat. Jakarta: Epidemiologi Indonesia.

Fadilah, R. (2019). Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Status Gizi Balita. Jurnal Pendidikan dan Kesehatan Anak.

Handayani, F., etal. (2021). Pekerjaan Orang Tua dan Risiko Stunting pada Anak. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia.

https://www.unicef.org/indonesia/id/SDG_Baseline_report.pdf.

Kementrian Kesehatan RI, 2018. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia.

Kurniawan, B. (2018). Peran Pemantauan Pertumbuhan terhadap Pencegahan Stunting. Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak.

Lestari, N. (2019). Pengaruh Pengetahuan Ibu dan Faktor Budaya terhadap Kejadian Stunting. Jurnal Gizi dan Kesehatan.

Miles andHuberman M. A, 1984. Qualitative Data Analysis. London: Sage Publication.

Ningsih, H. (2022). Lingkungan, Sanitasi, dan Stunting di Wilayah Pesisir. Jurnal Kesehatan Lingkungan Tropis.

Notoatmodjo, S. (2010). Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: RinekaCipta.

Penelitian danPengembangan Informasi,p.342.Availableat: http://www.bnp2tki.go.id/read/11034/Data-Penempatan-dan- Perlindungan-TKI-Periode-Tahun-2015.html

Putri, A., Rahmayanti, D., & Lobo, M. (2020). Hubungan Kelengkapan Imunisasi dengan Kejadian Stunting pada Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nusantara.

Rahmawati, I. (2018). Imunisasi Dasar dan Risiko Stunting pada Anak Usia 12–59 Bulan. Jurnal Epidemiologi Indonesia.

Sari, P. (2020). Peran Budaya Lokal terhadap Pola Makan dan Status Gizi Anak. Jurnal Antropologi Kesehatan.

United Nations Children’sFund, World Health Organization, World Bank Group. 2018. Levelsand Trends in Child Malnutrition: Key Findingsof The 2018 Editionof The Joint Child Malnutrition Estimates.

World Health Organization. 2018. WHO Global Nutrition Target: StuntingPolicyBrief.Geneva

Wulandari, S. (2020). Kunjungan Posyandu dan Pertumbuhan Anak. Jurnal Pelayanan Kesehatan Primer.

Yuniarti, D. (2021). Status Sosial Ekonomi dan Kejadian Stunting pada Balita. Jurnal Pembangunan Kesehatan Masyarakat.

Downloads

Published

2026-07-15

How to Cite

Marliance Lewo Wolla, Pius Weramen, & Sigit Purnawan. (2026). Hubungan Sosial Budaya, Kelengkapan Imunisasi dan Faktor Social Ekonomi dengan Kejadian Stunting pada Balita 0-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana . SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 5(3), 615–629. https://doi.org/10.55123/sehatmas.v5i3.8554

Issue

Section

Articles