Evaluasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Riwayat Sakit pada Anak Balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Salbait Kecamatan Mollo Barat
DOI:
https://doi.org/10.55123/sehatmas.v4i2.4884Keywords:
Stunting, Children Under Three Years Old, PMT, History of IllnessAbstract
Stunting is a condition of failure to grow in children due to malnutrition chronicle in the first 1000 days of Life (HPK) which is marked with TB/U has a z-score limit of less than -2 SD. Government efforts to handle the problem of stunting in toddlers is by providing additional food in the form of complete ready-to-eat meals or snacks made from local food ingredients. Objective of this research is to start giving additional food (PMT) and history of illness in stunting children under five at the Work Area Health Center Salbait, West Mollo District. This type of research is quasi experiment with a pre-posttest without control design. Deep sample this study consisted of 60 people. Sampling technique in this research namely simple random sampling. The data analysis used the insdependent sample t-test statistical test. Based on the research results, it shows that providing food Supplement (PMT) (P = < 0.001) can increase energy and protein intake (P = < 0.001), as well as weight body and height (P = <0.001), and reduce the duration of illness (P = < 0.001). In conclusion: there is an influence of supplementary feeding (PMT), and history of illness on the incidence of stunting in children under five in the Work Area Salbait Health Center, West Mollo District.
Downloads
References
Adriani., & Wirjatmadi. (2012). Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan. Jakarta: Kencana.
Aisyah, I. S., & Yunianto, A. E. (2021). Hubungan Asupan Energi dan Asupan Protein dengan Kejadian Stunting pada Balita (24-59 Bulan) di Kelurahan Karanganyar Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 17(1), 240–246. https://jurnal.unsil.ac.id/index.php/jkki/article/view/3603
Ariati, L. I. P. (2019). Faktor-faktor Risiko Penyebab Terjadinya Stunting pada Balita Usia 23-59 Bulan. Jurnal Ilmiah Kebidanan, 6(1), 28–37. https://doi.org/10.22435/pgm.v45i2.5638
Arisman. (2010). Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.
Ashsiddiq, N. A. (2015). Penyakit Infeksi dan Pola Makan dengan Kejadian Status Gizi Kurang berdasarkan BB / U pada Balita Usia 6-24 Bulan di Wilayah Kerja PuskesmasTanah Sepenggal. Scientia Journal, 7(2), 158– 165. https://www.neliti.com/publications/286575/penyakit-infeksi-dan-pola-makan-dengan-kejadian-status-gizi-kurang-berdasarkan-b#cite
Christijani, R., & Nurhidayati, N. (2022). Hubungan Risiko Status Kesehatan Anak dengan Kejadian Stunting pada Anak 24-36 Bulan. Penelitian Gizi Dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 45(2), 83– 90. https://doi.org/10.22435/pgm.v45i2.5638
Hartini, B. (2019). Hubungan Asupan Energi, Protein, dan Zinc terhadap Kejadian Stunting pada Siswa SDN 11 Kampung Jua Kecamatan Lubuk Begalung Tahun 2019 [Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang]. http://repo.stikesperintis.ac.id/446/
I Dewa Nyoman Supariasa. (2012). Penilaian Status Gizi. EGC.
Kemenkes RI. (2011). Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang (Bantuan Operasional Kesehatan). Kemenkes RI.
Kemenkes RI. (2023). Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbahan Pangan Lokal untuk Balita dan Ibu Hamil. Kemenkes RI
Kurniawati, T. (2017). Langkah-langkah Penentuan Sebab Terjadinya Stunting Pada Anak. Jurnal Anak Usia Dini Dan Pendidikan Anak Usia Dini, 3 (1), 58–69.
Lusiani, V. H., & Anggraeni, A. D. (2021). Hubungan Frekuensi dan Durasi Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kebasen Kabupaten Banyumas. Journal of Nursing Practice and Education, 2(01), 1–13. https://doi.org/10.34305/jnpe.v2i1.374
Meryana. (2014). Gizi dan Kesehatan Balita (Edisi Pertama). Jakarta: Kencana.
Nelista, Y., & Fembi, P. N. (2021). Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Berbahan Dasar Lokal Terhadap Perubahan Berat Badan Gizi Kurang. Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(2), 1228–1234. https://doi.org/10.31004/prepotif.v5i2.2426
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nova, M., & Afriyanti, O. (2018). Hubungan Berat Badan, ASI Eksklusif, MPASI dan Asupan Energi dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Lubuk Buaya. Jurnal Kesehatan Perintis, 5(1997), 39–45. https://jurnal.stikesperintis.ac.id
Permenkes RI. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
Prastia, T. N., & Listyandini, R. (2020). Keragaman Pangan Berhubungan dengan Stunting pada Anak Usia 6-24 Bulan. Hearty Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1), 33–41.
Proverawati, A., & Wati. (2010). Ilmu Gizi Untuk Keperawatan Dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Putri Ariani, A. (2017). Ilmu Gizi Dilengkapi dengan Standar Penilaian Status Gizi Dan Daftar Komposisi Bahan Makanan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Putri, Arum Sekar Rahayuning. (2020). Efektivitas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan Pada Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Simomulyo, Surabaya. Putri dan Mahmudiono. Amerta Nutr (2020).58-64 Published Online: 15-03-2020. Doi: 10.20473/Amnt. v4i1.2020.58-64 Joinly Published By Iagikmi & Universitas Airlangga
Rahayu, A., Yulidasari, F., Putri, A. O., & Anggriani, L. (2018). Study Guide - Stunting dan Upaya Pencegahannya. CV Mine. http://kesmas.ulm.ac.id
Rahmadhita, K. (2020). Permasalahan Stunting dan Pencegahannya. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 11(1), 225–229. https://doi.org/10.35816/jiskh.v10i2.253
Retnowati, D. H., Syamsianah, A. & Handarsari, E. Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Terhadap Perubahan Berat Badan Balita Bawah Garis Merah Kecacingan di Wilayah Puskesmas Klambu Kabupaten Grobogan. J. Gizi Univ. Muhammadiyah Semarang 4, 30–36 (2015).
Sirajuddin, Rauf, S., & Nursalim. (2020). Asupan Zat Besi Berkorelasi dengan Kejadian Stunting Balita di Kecamatan Maros Baru. Journal of The Indonesian Nutrition Association, 43(2), 109–118. https://doi.org/10.36457/gizindo.v43i2.406
Sodiaotomo. (2010). Karakteristik Balita. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Rnd. Bandung: PT Alfabet.
Syah, N. F. (2019). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-23 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun 2018 [Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah]. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/47554/1/
Tando, N. M. (2012). Durasi dan Frekuensi Sakit Balita dengan Terjadinya Stunting pada Anak SD di Kecamatan Malalayang Kota Manado. GIZIDO, 4(1), 338–348.
Wati, N. (2020). Analisis Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Terhadap Status Gizi Anak Di Posyandu Kelurahan Sembungharjo Semarang. Tematik: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 94. https://doi.org/10.26858/tematik.v6i2.15539
Wea, M. E. (2022). Hubungan Asupan Energi Protein dan Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting di Puskesmas Laja Kecamatan Golewa Selatan Kabupaten Ngada. Universitas Nusa Cendana.
Welasasih, B. D., & Wirajatmadi, R. B. (2012). Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita Stunting. Indonesian Journal of Public Health, 8(3), 99–104
WHO. (2018). Reducing Stunting in Children, Equity Considerations for Achieving the Global Nutrition Targets 2025. World Health Organization. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/260202/9789241513647- eng.pdf;sequence=1
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Murtin A. M. Anone, Lewi Jutomo, Anna H. Talahatu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
Penulis mengakui bahwa SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat) sebagai publisher yang mempublikasikan pertama kali dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Penulis dapat memasukan tulisan secara terpisah, mengatur distribusi non-ekskulif dari naskah yang telah terbit di jurnal ini kedalam versi yang lain, seperti: dikirim ke respository institusi penulis, publikasi kedalam buku, dan lain-lain. Dengan mengakui bahwa naskah telah terbit pertama kali pada SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat).
























